demokrasi pendidikan dalam islam

BAB I

PENDAHULUAN

 

 A. Latar Belakang Masalah

Keberadaan demokrasi dalam pendidikan islam, tentu saja tidak dapat dilepaskan dari sejarah/demokrasi dalam ajaran islam dan demokrasi secara umum. Demokrasi dalam ajaran Islam secara prinsip telah diterapkan oleh Nabi Muhammad SAW yang dikenal dengan istilah “musyawarah”. Kata demokrasi memang tidak ada terdapat di dalm al-qur’an dan hadits, karena katademokrasi berasal dari Barat atau Eropa yang masuk ke peradaban islam.dalam era modern, demokrasi terbagi menjadi tiga corak, yaitu: Demokrasi Langsung, Demokrasi tidak langsung, Demokrasi Rakyat.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah:

  1. Pengertian Demokrasi dan Demokrasi Pendidikan Islam
  2. Prinsip –prinsip Demokrasi dan Demokrasi Pendidikan Islam
  3. Pelaksanaan Demokrasi Pendidikan Islam

C. Tujuan Makalah

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu syarat dalam mata kuliah Ilmu Pendidikan Islam. Disamping itu juga untuk mengetahui Apa yang dimaksud dengan Demokrasi dalam Pendidikan Islam dan mana saja yang termasuk di dalamnya.

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.     Pengertian Demokrasi

Demokrasi berasal dari bahasa yunani, dari kata “demos” dan “cratos”, demos berarti rakyat dan cratos berarti pemerintah. Amka demokrasi adalah pemerintahan di tangan rakyat.

Menurut Peter Salim, “Demokrasi adalah pandangan hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi semua negara”. Sedangkan Zaki Badawi berpendapat bahwa demokrasi adalah menetapkan dasar – dasar kebebasan dan persamaan terhadap  individu – individu yang tidak membedakan asal, jenis agama dan bahasa.

Menurut Dede Rosyada, istilah demokrasi memang muncul dan dipakai dalam kajian politik, yang bermakna kekuasaan berada di tangan rakyat, mekanisme berdemokrasi dalam politik tidak sepenuhnya sesuai dengan mekanisme dalam lembaga pendidikan, namun secara substansif demokrasi membawa semangat dalam pendidikan , baik dalam perencanaan, pengelolaan, dan evaluasi.

Apabila dihubungkan dengan pendidikan maka pengertiannya sebagai berikut: Vebrianto memberi pendapat pendidikan yang demokrasi adalah pendidikan yang pendidikan yang memberikan kesempatan yang sama kepada setiap anak (peserta didik) mencapai tingkat pendidikan sekolah yang setinggi –tinginya sesuai dengan kemampuannya.

Sugarda Purbakawatja, memberikan definisi bahwa demokrasi pendidikan, adalah pengajaran pendidikan yang semua anggota masyarakat mendapatkan pendidikan dan pengajaran yang adil.

Berdasarkan definisi tersebut dapat dipahami bahwa demokrasi pendidikan merupakan suatu pandangan yang mengutamakan persamaan kewajiban dan hak dan perlakuan oleh tenaga kependidikan terhadap peserta didik dalam proses pendidikan.

B. Prinsip –prinsip Demokrasi

Walaupun rumusan demokrasi bervariasi seperti dikemukakan para ahli namun pada hakikatnya terdapat benang merah atau titik singgung dan mengarah pada satu makna yang sama, yaitu suatu ideologi atau cara hidup (way of life) yang menekankan pada nilai individu yang menjunjung tinggi nilai tanggung jawab, saling menghormati, toleransi dan kebersamaan.

Namun dalam praktek demokrasi nilai – nilai individu tersebut di atas sering disalah gunakan, seperti yang dikemukakan Hasan Langgulung bahwa kebiasaan dari segala belenggu kebendaan kerohanian yang tidak sah yang kadang – kadang dipaksakan kepada manusia, tanpa alasan yang benar pada kehidupan sehari – hari yang menyebabkan ia tidak sanggup menikamati hak – haknya yang wajar. Sehingga yang terjadi bukan demokrasi yang diidam – idamkan, tetapi anti demokrasi yang menjurus pada tindakan anarkhis yang menindas hak – hak kebebasan dan martabat orang lain. Oleh karena itu, prinsip demokrasi perlu dilihat secara keseluruhan, bukan hanya secara parsial prinsip – prinsip demokrasi tersebut adalah:

  1. kebebasan
  2. penghormatan terhadapa manusia
  3. persamaan
  4. pembagian kekuasaan

C. Prinsip –prinsip Demokrasi Dalam Islam.

Sumber ajaran islam berupa al-qur’an dan hadits yang dapt dijadikan sebagai prinsip dasar dalam berdemokrasi diantaranya adalah:

a)      Tidak akan gagal orang yang mengerjakan shalat istikharah (menentukan pilihan), dan tidak pula menyesal orang yang melakukan musyawarah.

b)     Tidaklah suatu kaum (masyarakat) melaksanakan musyawarah kecuali pasti mendapat petunjuk (untuk memecahkannya) dan urusannya pasti lancar.

c)      Orang bermusyawarah (meminta petunjuk) akan merumuskan ketentraman.

d)     Menuntut ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim (baik pria maupun wanita)

Firman Allah SWT dalam Q.S. 42:38 yang artinya:
” Dan mereka yang mematuhi seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang uerusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah anatara mereka dan merka menafkahkan sebagian dari rezeki yang kamu berikan kepada mereka”.

Namun dalam prakteknya ternyata demokrasi telah diterapkan oleh Nabi Muhammad SAW, yang dikenal dengan istilah musyawarah. Salah satu contoh dapat dikemukakan bahwa ketika Nabi Muhammad SAW menghadapi masalah strategi perang dan diplomasi dengan musuh, tergambar jelas bagaimana Nabi Muhammad menyelesaikan masalah sosial politik yang sedang dihadapi dan beliau selalu aspiratif dan dapat mentolierir adanya perbedaan pendapat diantara para sahabat, tidak terkecuali berhadapan dengan musuh.

Sedangkan mekanisme pengambilan keputusan terkadanng beliau mengikuti mayoritas, dan ada pula mengambil keputusan dengan pendapat sendiri tanpa mengambil saran sahabat. Dengan kata lain Nabi Muhaammad SAW tidak menentukan suatu system, cara dan metode musyawarah secara baku, tetapi lebih bersifat variatif, fleksibel dan adaptif.

Firman Allah dalam Q.S. 3:159 yang artinya: “Maka disebabkan rahmat Allahlah kamu – kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri daari sekelilingmu, karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, kemudian apabila kamu membulatkan tekad maka bertawakkallah kepada Allah, sesungguhnya allah menyukai orang – orang yang bertawakkal kepadanya.

Ayat diatas ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW agar bermusyawarah dalam persoalan – persoalan yang dihadapi dengan para sahabatnya atau anggota masyarakat. Hal ini merupakan bukti keseluruhan dan kebijakan kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Serta kemuliaan budi pekertinya. Dari konsep musyawarah tersebuut ada nilai – nilai yang terdapat dalam demokrasi yang menjadi prinsip daasar demokrasi. Nilai – nilai tersebut diantaranya:

  1. Prinsip kebebasan
  2. Prinsip persamaan
  3. Prinsip penghormatan terhadap martabat manusia.

D. Demokrasi Pendidikan Islam.

Prinsip demokrasi pendidikan islam dijiwai oleh prinsip demokrasi dalam islam, atau dengan kata lain demokrasi pendidikan islam merupakan implementasi prinsip – prinsip demokrasi islam terhadap pendidikan islam.

Bentuk demokrasi pendidikan islam adalah sebagai berikut:

1)      kebebasan bagi pendidik dan peserta didik

a)        Kebebasan Berkarya

b)        Kebebasan dalam Mengembangkan Potensi

c)        Kebebasan dalam Berpendapat

2)      Persamaan terhadap peserta didik dalam pendidikan islam.

Islam memberikan kesempatan yang sama bagi semua peserta didik untuk mendpatkan pendidikan atau belajar. Abuddin Nata menyatakan bahwa peserta didik yang masuk di lembaga pendidikan tidak ada perbedaan derajat atau martabat, karena penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan dalam suatu ruangan dengan tujuan untuk memperoleh pengetahuan dari pendidik. Pendidik harus mengajar anak orang yang tidak mampu dengan yang mamppu secara bersama atas dasar penyediaan kesempatan belajar yang sama bagi semua peserta didik.

Dalam pendidikan islam tidak ditemmukan system sekolah unggul karena hal tersebuut tidak sesuai dengan prinsip demokrasi pendidikan islam sebab bersifat diskriminasi terhadap peserta didik. Pendidik harus mampu memberikan kesempatan yang sama kepada semua peserta didik untuk mendapatkan pendidikan.

3)      Penghormatan akan martabat individu dalam pendidikan islam.

Demokrasi sebagai penghormatan akan martabat orang lain; maksudnya ialah seorang akan memperlakukan orang lain sebagaimana dirinya sendiri. Secara histories prinsip penghormatan akan martabat individu telah ditunjukkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam praktek pembebasan kaum tertindas di Mekkah seperti memerdekakan budak.

E. Pelaksanaan Demokrasi Pendidikan Islam.

Menurut Abdurrahman Saleh Abdullah, “pendidikan tidak dipandang sebagai proses pemaksaan dari seseorang pendidik untuk menentukan setiap langkah yang harus diterima oleh peserta didiknya secara individual” dengan demikian dalam proses pembelajaran harus dilandasi  oleh nilai – nilai demokrasi yaitu dengan penghargaan terhadap kemampuan peserta didik, menerapkan persamaan kesempatan dan memperhatikan keragaman peserta didik sebagai insane yang harus dihargai kemampuannya dan  diberi kesempatan untuk mengmbangkan kemampuannya tersebut. Dalam proses pembelajaran harus dihindaari suasana belajar yang kaku, penuh engan ketegangan, syarat dengan perintah dan instruksi yang membuat peserta didik menjadi pasif dan tidak bergairah, cepat bosan dan mengalami kelelahan.

Islam menyerukan adanya prinsip persamaan dan peluang yang sama dalam belajar, sehingga terbukalah kesadaran untuk beljar bagi semua orang, tanpa adanya peerbedaan antara si kaya dan si miskin dan status sosial ekonomi seorang peserta didik, serta tidak pula gender.

Dalam praktek demokrasi pendidikan islam pada masa dahullu, kata Athiyah adalah partisipasi aktif masyarakatuntuk mendirikan mesjid – mesjid, institut – institut dan lembaga – lembaga ilmu pengetahuan sebagai sarana belajar, sehingga memungkinkan siswa yang kurang mampu meneruskan pelajarannya serta melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi. Sebagi hasil keterlibatan aktif masyarakat yang dilandasi rasa persamaan dan kebersamaan dalam pembiayaan pendidikan ternyata telah melahirkan kaum Intelektual dan ulama – ulama besar, yang umumnya memang berasal dari anak – anak kurang mampu, seperti al – Ghazali, imam Syafe’ dan lain – lain.

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A. Kesimpulan

Demokrasi berasal dari bahasa yunani, dari kata “demos” dan “cratos”, demos berarti rakyat dan cratos berarti pemerintah. Amka demokrasi adalah pemerintahan di tangan rakyat. Dalam prakteknya ternyata demokrasi telah diterapkan oleh Nabi Muhammad SAW, yang dikenal dengan istilah musyawarah.

Menurut Abdurrahman Saleh Abdullah, “pendidikan tidak dipandang sebagai proses pemaksaan dari seseorang pendidik untuk menentukan setiap langkah yang harus diterima oleh peserta didiknya secara individual” dengan demikian dalam proses pembelajaran harus dilandasi  oleh nilai – nilai demokrasi yaitu dengan penghargaan terhadap kemampuan peserta didik.

  1. B.     Saran

 

Dengan mempelajarai tentang Demokrasi dalam pendidikan islam maka diharapkan pemahaman kita terhadap Demokrasi dalam penyelenggara pendidikan islam bertambah dan semoga juga menambah minat kita untuk terlibat sebagai pelaksana dan pengangung jawab dari keterlaksanaan pendidikan islam itu sendiri, baik secara formal, informal maupun non formal.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Darajat Zakiah Dr. Ilmu Pendidikan Islam. 2000. Jakarta: Bumi Aksara
  2. Ramayulis Prof DR H. Ilmu Pendidikan Islam. 2002. Jakarta: Radar Jaya Offset
  3. Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, 2003, Jakarta: Kalam Mulia.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: