evaluasi dalam pendidikan islam

A. Pengertian Evaluasi

Evaluasi berasal dari kata “to Evaluate” yang berarti “ menilai”. Istilah nilai (value / al – qimat) pada mulanya dipopulerkan oleh filososf dan Plato lah yang mula – mula mengemukakannya. Pembahasan nilai secara khusus diperdalam dalam diskursus filsafat, terutama pada prospek aksiologinya.

Penilaian atau evaluasi menurut Edwind Wand dan Gerald W. Brwon adalah “the  act or prosess to detemining the value of something”. Penilaian dalam pendidikan berarti seperangkat tindakan atau proses untuk menenentukan nilai sesuatu yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Menurut ilmu jiwa evaluasi berarti, “menetapkan fenomena yang dianggap berarti di dalm hal yang sama berdasarakan suatu standar”.

Pengukuran dalam pendidikan adalah usaha untuk memahami kondisi – kondisi objektif tentang suatu yang akan dinilai. Ukuran atau patokan yang menjadi pembanding perlu ditetapkan secara konkrit guna menetapkan nilai atau hasil perbandingan. Hasil penialian tidaklah bersifat mutlak tergantung dari kriteria yang menjadi ukuranatau pembandingnya. Penilaian dan pengukuran dalam pendidikan islam akan objektif apabila didasarkan dengan tolak ukur Al –qur’an atau Al- hadist sebagai pembandingnya.

Suharmini Arikunto, mengajukan tiga istilah dalam pembahasan ini, yaitu pengukuran, penilaian, dan eevaluasi. Pengukuran (measurment) adalah membandingkansesuatu dengan suatu ukuran. Pengukuran ini bersifat kuantitatif penilaian adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatudengan ukuran baik dan buruk. Penilaian ini bersifat kualitati, sedangkan evaluasi adalah mnecakup pengukuran dan penilaian.

Berdasarkan pengertian di atas menunjukkan bahwa pengukuran dalam pendidikan bersifat konkrit, objektif, serta didasarkan atas ukuran – ukuran yang umum dan dapat dipahami secara umum pula. Misalnya pelaksanaan shalat. Seseorang yang shalat dapat diukur dan dinilai. Pengukuran shalat berkaitan dengan pelaksanaan syrat dan rukunnya maka shalatnya dianggap sah apabila rukun dan syaratnya sudah dilaksanakan dengan sempurna dan seseorang itu dinyatakan terbebas dari kewajiban shalat. Sedangkan penilaian shalat yang berkaitan dengan adab – adabnya seperti keihlasan, kekhusukkan dan sebagainya. Apabila seorang telah melaksnakan adab – adab inii berarti shalatnya diterimadan berpahala. Penilaian lebih sulit daripada pengukuran, apabila jika peniliaian dikaitkan dengan nilaia aspek – aspek keagamaan, yang konon aspek – aspek ini sebenarnya bukan wewenang manusia melainkan wewenang Tuhan.

Term evaluasi dalam wacana keislaman tidak ditemukan padanan yang pasti, tetapi terdapat term – term tertentu mengarah pada makna evaluasi, diantaranya:

  1. Al – hisab, emmiliki makna mengira, menfsirkan, menghitung dan menganggap, misalnya dalam Al baqarah: 284, yang artinya “ Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di hatimu atau kamu mennyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatan itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki.
  2. Al – bala’, memiliki makna cobaan, ujian. Misalnya dalam Al –Mulk: 2, yang artinya ”Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu ahsan (yang lebih baik) amalnya.
  3. Al – Hukm, yang memiliki makna putusan atau vonis. Misalnya dalam Al – naml: 78, yang artinya “Sesungguhnya Tuhanmu akan menyelesaikan perkara antara mereka dengan putusan – Nya, dan Dia Maha Perkasa dan Maha Mengetahui”.
  4. Al – qadha, memiliki makna putusan. Misalnya dalam Thaha: 72, yang artinya “ Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja”.
  5. Al – Nazhr, memiliki arti melihat. Contohnya dalam Al – Naml: 27, yang artinya “ (Sulaiman) berkata: Akan kami lihat, apakah kamu benar – benar ataukah kamu termasuk orang – orang yang berdusta.”
  6. Al – Imtihan, memilki makna ujian. Term inin digunakan oleh Athiyah Al – Abrasyi.

Penilaian dalam pendidikan dimaksud untuk menetapkan keputusan keputusan kependidikan, baik yangmenyangkut perencanaan, pengelolaan, proses dan tindak lanjut pendidikan, baik yang menyangkut perencanaan, pengelolaan danproses tindak lanjut pendidikan baik yang menyangkut perorangan, kelompok maupun kelembagaan.

B. Objek Evaluasi

Objek evaluasi dalam pendidikan islam dalam arti yang umumnya adalah peserta didik, atau dalam arti khusus adalah aspek – aspek tertentu yang terdapat pada peserta didik. Peserta didik disini sebenarnya bukan hanya sebagi objek evaluasi semata, tetapi jugasebagai evaluasi. Oleh karena itu, evaluasi pendidikan islam dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu evaluasi diri sendiri (self evaluation / Introspeksi) dan evaluasi terhadap orang lain (peserta didik).

Evaluasi terhadap diri sendiri adalah dengan mengadakan introspeksi atau perhitungan terhadap diri sendiri. Evaluasi ini tentunya berdasarkan kesadaran sendiri yang bertujuan untuk meningkatkan kreatifitas dan produktifitas (amal sal;eh) pribadi. Apabila dalam proses evaluasi tersebut ditemukan beberapa keberhasilan, maka keberhasilan itu hendaknya dipertahankan atau ditingkatkan, tetapi apabila ditemukan kelemahan dan kegagalan maka hendaknya hal itu segera diperbaiki dengan cara meningkatkan ilmu, iman dan amal.

Evaluasi terhadap orang lain (peserta didik) merupakan bagian dari kegiatan pendidikan islam. Kegiatan ini tidak sekedar boleh tetapi bahkan diwajibkan. Kewajiban disini tentunya berdasarkan niat “amar ma’ruf nahyi munkar” yang bertujuan untuk perbaikan (ishlah) perbuatan sesama umat islam. Syarat – syarat penilaian ini harus bersifat kopmparabel, segera dan tidak dibiarkan berlarut – larut, sehingga anak didik tidak tenggelam dalam kebimbangan, kebodohan, kezaliman, dan dapat melangkah lebih baik dari perilaku manusia semula.

Aspek khusus yang harus menjadi sasaran evaluasi pendidikan islam adalah perkembangan pesserta didik. Perkembangan peserta didik dapat dilihat dari beberapa sudut pandang, yaitu:

1.  Dilihat dari sudut tujuan

Tujuan umum pendidikan islam adalah adanya taqqarub dan penyerahan mutlak peserta didik, kepada Allah SWT. Evaluasi disini meliputi aspek:

  1. Perkembangan ibadah peserta didik
  2. Perkembangan pelaksanaan menjadi khalifah Allahdimuka bumi
  3. Perkembangan keimanan dan ketaqwaan kepada – Nya
  4. Perkembnagn pemenuhan kewajiban hidup, berupa kewajiban yang bersifat duniawi atau ukhrawi.

2.  Dilihat dari fungsi pendidikan  islam

Fungsi pendidikan islam adalah pengembangan potensi peserta didik dan transinternalisasi nilai – nilai islami serta memprsiapkan segala kebutuhan masa depan peserta didik.

3. Dilihat dari sudut dimensi – dimensi kebutuhan hidup dalam pendidikan islam.

Dimensi – dimensi kebutuhan hidup manusia dapat di uraikan kepada:

  1. Ada kalanya berdasarkan kebutuhan asasi hidup manusia. Seperti kebutuhan dharuhiah (primer)., hajjah (sekunder) dan teknisiyah (pelengkap untuk memperindah).
  2. Ada juga berdasarkan segi –segi yang terdapat pada psikopistik manusia seperti segi jasmani, aqliyah, akhlaqiah, ijtimiah (sosial) dan jamaliah (artistik/ seni).
  3. Dilihat dari domain atau ranah yang terdapat pada diri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: